Langsung ke konten utama

AKU, KAMU DAN TAKDIR an novel by Dahlia Prihatini

Assalamualaikum teman-teman readers blog gue!
Apa kabar? semoga kalian  selalu mendapat perlindungan dari Allah swt. Amiin!!
hari ini gue mau sharing tulisan gue terkait sastra fiksi, ya emang masih amatir si dalam penulisan but gue berharap kalian suka and enjoy for reading ya guys!



ANONIM
Cerita ini mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang, tapi tidak bagi Sang Maha Pemilik Kehidupan. Betapa takdir begitu rumit mempersatukan sepasang hati anak manusia. Kejutan-kejutan yang selalu datang tanpa diminta. Pertemuan-pertemuan yang menguak banyak rahasia. Ini kisah tentang sebuah pencarian, prinsip hidup, keimanan, dan cinta.


Prolog

Manusia memang tidak mengetahui bagaimana Tuhan menggariskan hidupnya. Takdir seperti apa yang dipilihkan Tuhan untuk seorang manusia memanglah akan selalu menjadi misteri yang terungkap seberjalannya waktu. Begitupun dengan takdir yang dijalani gadis cantik berumur 24 tahun ini, ia berdiri di dalam ruangan kerjanya yang terletak di dalam gedung pencakar langit dan melihat ke luar jendela, hanya gedung-gedung yang terlihat sejauh mata memandang. Lalu pandangannya beralih ke bawah melihat jalanan ibu kota yang hari ini terlihat tidak seramai biasanya, ia tersenyum menyadari bahwa jalanan ibu kota begitu indah tanpa kemacetan yang biasa mendera. Tatapannya beralih pada sebuah masjid dengan bangunan yang cukup indah dan menyejukan hati. Hatinya berdesir halus mengingat seseorang di masa lalu yang juga sangat senang melihat bangunan tempat ibadah umat muslim ini dan pernah bermimpi untuk membangunnya bersama.

Takdir memang begitu rumit pikir gadis itu. Ia tersenyum pahit ketika mengingat hal tersebut. Kemudian ia memutar cincin yang ada di jari manisnya. Ya cincin yang diberikan calon suaminya saat sedang melamarnya beberapa hari yang lalu. Alika bergumam pada dirinya sendiri “sudah waktunya aku melupakanmu, beberapa bulan lagi aku akan menikah dan hatiku haruslah hanya untuk suamiku!” tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya dan dengan cepat ia menghapus butiran yang jatuh tanpa diminta itu. Ia kembali ke tempat duduknya dan berhenti dari segala macam lamunannya tentang masa lalunya, tentang mimpinya, tentang cintanya dan tentang pilihan hidupnya. Ya gadis cantik itu adalah Alika Humaira.



Bagian 1
Besok merupakan salah satu hari yang bersejarah untuk Alika Humaira, seorang gadis remaja usia 17 tahun. Bagaimana tidak. Ini merupakan langkah awal gadis yang biasa disapa Al itu untuk memulai langkahnya beberapa tahun kedepan. Semoga saja akan baik pikirnya dalam hati sebelum benar-benar terlelap dalam alam mimpi.

Pagi ini alarm itu berbunyi lagi, seolah terdengar lebih bising dari sebelumnya.

“Al, bangun sudah jam berapa ini? Kamu mau ibu membangunkanmu untuk yang ketiga kali dengan air dari kolam, hah?” suara ibu sambil mengguncangkan tubuh Al dan suaranya terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Ya, Al biasa menyebut suara ibunya sebagai alarm pagi dikarenakan tidak akan berhenti berbunyi sampai ia bangun.

“iya bu, lima menit lagi deh, ngumpulin nyawa dulu” katanya lalu menguap dan mengantupkan mulut dengan tangan. “ini kan hari pertama masa orientasi kamu di kampus, memangnya kamu mau dihukum karena telat datang?” kata ibu dengan santai sembari berjalan keluar dari kamar Al.

Gadis itu langsung terperanjat mendengarnya, tanpa ba bi bu ia langsung melihat jam, dia mengucapkan istigfar karena sudah hampir jam setengah 6 pagi tak lupa ia merutuki dirinya sendiri yang tidur terlalu larut semalam. Ia langsung buru-buru ke kamar mandi dan segera solat subuh sebelum matahari benar-benar terbit sempurna. Al bersiap menggunakan pakaian orientasi kampusnya yang saat ini lebih terlihat seperti orang yang akan melamar pekerjaan, Al mengernyit heran melihat pakaiannya di depan cermin, baju putih dan rok hitam tidak lupa ditambah dengan jilbab hitam polos. Lalu Al buru-buru menuruni tangga rumahnya dan langsung menemui ibu dan ayahnya yang sedang sarapan di meja makan.

“Al, sarapan dulu!” titah ibu padanya.

“Al udah telat bu, langsung berangkat aja ya, lagian ojek online Al udah didepan, Assalamualaikum yah,bu!” ucapnya terburu-buru sambil menyalami kedua orang tuanya.

“yaudah kalo gitu hati-hati. Waalaikumsalam” Ibu berkata sambil mengoleskan selai pada rotinya.
“Waalaikumsalam” jawab ayah seraya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu.

“Salsa udah bangun bu?” Tanya ayah setelah itu meneguk kopinya.  Ya, Salisatun Nufus atau yang biasa dipanggil Salsa itu merupakan adik dari Al. Salsa masih berstatus sebagai pelajar kelas 3 Sekolah Menengah Pertama tetapi pertumbuhannya cukup dibilang pesat karena perawakan Salsa hampir sama dengan Alika bahkan sedikit lebih tinggi dari Alika. Al memang memiliki postur tubuh yang cukup mungil sekitaran 150 cm. Alika dan Salsa memang bisa dibilang mirip dari segi wajah, keduanya memiliki wajah oriental yang khas, turunan dari sang ibu yang merupakan wanita berdarah campuran Indo-Korea tetapi lahir dan menetap di Jakarta.

“belum tadi sempat bangun solat subuh tapi tidur lagi karena libur katanya” jawab ibu setelah mengunyah roti yang tadi ia oleskan selai.

Melihat Tupperware di samping meja tiba-tiba ibu berteriak “astagfirullah! Ayah! Ibu lupa, bekelnya Al ketinggalan.” Ucap ibu seraya panik berhambur keluar halaman mengejar anaknya yang ternyata telah hilang dari pandangan.

Lalu ibu kembali ke meja makan dengan lesu karena tidak menemui anaknya tersebut. Ayah hanya tertawa melihat kelakuan ibu. Istrinya itu memang selalu begitu, perhatian dan lembut kepada anak-anak mereka.

///////

Di kampus suasana terasa begitu menegangkan. Melihat ekspresi wajah kakak tingkat yang berperan sebagai sie kedisplinan sedang menatap tajam ke arah Al. Ya dia tahu penyebabnya dikarenakan ia telat datang di hari pertama orientasi bahkan sangat telat.

“jam berapa sekarang?” ucap salah satu dari mereka dengan gaya bicara yang datar tapi terkesan mematikan bagi siapa saja yang mendengarnya.

“maaf kak saya telat, tadi di jalanan macet banget kak, saya padahal udah berusaha naik ojek online buat ngehindarin kemacetan tapi ternyata saya masih telat juga, tadi tuh jalan….” Ucapannya terhenti saat kakak tersebut menginterupsinya “saya tanya sekarang jam berapa?!” nadanya sangat mengintimidasi Al.

“jam delapan lewat lima belas menit kak.” Jawabnya pasrah.

“jadi kamu tahu kan telat berapa jam?” tanyanya lagi.

“satu jam lima belas menit kak.” Jawab Al sudah benar-benar pasrah sambil berpikir tentang hukuman apa yang akan dia dapat setelah ini.

“kalau gitu kamu boleh memilih tetap mengikuti kegiatan ini atau kembali ke rumah.” Dia mengucapkan dengan sedikit penekanan diakhir kalimat.

“ikut acara ini kak!” kata Al dengan mantap, dia tahu pertanyaan seperti itu dilontarkan hanya sebagai jebakan padanya karena pada akhirnya kakak-kakak tersebut juga tidak akan membiarkan Al kembali ke rumah.

Lalu senior ini kembali menatap Al dengan tajam lalu berkata “pilihan yang tepat”.

Al langsung menghembuskan napasnya dan bersyukur dalam hati karena kali ini dia selamat dari para senior yang galak tersebut, ralat maksudnya tegas, begitu pikirnya. Kalau saja bukan karena lelaki itu mungkin saja hari ini ia tidak akan berdiri di hadapan kakak senior ini dan memilih untuk kembali ke rumahnya.

Beberapa menit sebelumnya..

Al turun dari ojek online didepan kampusnya lalu memberikan uang kepada pengemudinya tadi. Setelah melihat jam tangannya dan menimbang beberapa saat, ia memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum akhirnya langkah Al terhenti oleh suara yang membuat hatinya terasa lebih sejuk. Suara itu datang dari balik gerbang tepatnya ditempat paling pojok dan tertutup oleh pepohonan yang tumbuh disana. Suara itu terlantun begitu syahdu membuat siapapun perempuan yang mendengarnya akan luluh hatinya. Ya. Suara seorang laki-laki yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an itu sangatlah merdu. Al penasaran dengan suara tersebut sehingga ia menghampiri sang empumya suara. Betapa terkejutnya ia melihat seorang lelaki tampan berpostur tegap, berkulit sawo matang khas Indonesia dengan hidung mancung dan alis tebal yang menaungi wajahnya terlihat sedang duduk sambil merapalkan Kallamullah tersebut. Al hapal betul ayat yang terdapat pada surah tersebut, ya Surah Ar-Rahman surah favoritnya dalam Al-Qur’an, surah yang ia anggap sebagai pengingat manusia kepada Tuhannya tentang betapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada manusia, Al merasa dengan surah itu ia menjadi lebih bisa mensyukuri segala apa yang ia dapat dalam hidupnya. Jantungnya berdegup kencang, kenapa bisa kebetulan begini? Surah itu? Mimpiku? Lelaki Ar-Rahman? batin Al.

Disinilah Al sekarang, berdiri terpisah dengan teman-teman seangkatannya yang juga tengah berada dalam masa orientasi tersebut. Di depan Al sudah ada 2 kakak senior perempuan dan 1 kakak senior laki-laki yang mengawasinya, Al tidak perlu menjadi paranormal untuk mengetahui siapa ketiga manusia di depannya ini karena dari tatapan dan raut muka mereka yang tegas sudah bisa dipastikan kalau mereka merupakan staff sie kedisiplinan.

“kamu mau tetep disini atau ikut gabung ke barisan teman-teman kamu yang lain?” Tanya salah satu perempuan yang mengembalikan Al ke dunia nyata.

“gabung sama teman-teman kak” cicit Al dengan raut wajah memelas.

“oke, kalau kamu mau gabung sama yang lain, kami memiliki syarat yang harus kamu jalani.” Kata satu-satunya senior laki-laki yang ada dihadapan Al sekarang. “baik kak, kalau begitu apa syarat yang harus saya lakukan?”

Si senior laki-laki tersebut menampilkan senyum miring kepada Al dan berkata “kamu harus membuat essay dengan tema kedisiplinan mahasiswa sebanyak dua lembar dan dikumpulkan besok hari, lalu kamu juga harus meminta maaf dihadapan semua teman-teman kamu yang sudah datang tepat waktu. Dan satu lagi kamu harus meminta permohonan maaf kepada ketua pelaksana orientasi universitas serta meminta tanda tangannya sebagai bukti ia telah menerima permohanan maaf kamu, bagaimana? Sanggup dengan syarat yang kami ajukan?”. Al sedikit terkejut pasalnya kalau hanya essay dan meminta maaf didepan semua teman seangkatannya ia sangat sanggup, tetapi meminta maaf kepada ketua pelaksana orientasi universitas? Al menelan ludah dengan susah payah, apakah kakak-kakak ini sengaja mengerjainya? Padahal jelas-jelas ia tidak mengenal siapa orang yang mereka maksud.

“sanggup kak, tetapi untuk syarat ketiga maaf sebelumnya kak, saya kan belum mengenal panitia disini kak, jadi bolehkan kakak tunjukan kepada saya dimana ketua pelaksana orientasi universitas tersebut berada?” Tanya Al takut-takut.

“Namanya Fahri Akbar, orangnya ada di sekitaran lapangan ini karena dia ketuplak sudah pasti mengawasi keberlangsungan acara ini. Untuk tahu yang mana orangnya kamu cari tahu saja sendiri, saya kasih waktu kamu untuk mencarinya 30 menit sambil menunggu teman-teman kamu yang lain sarapan dan sebelum apel pembuka dimulai.” Kata kakak senior perempuan yang memakai gincu warna gelap dan mencepol rambutnya, membuat kesan tegas terpancar dari wajahnya ditambah nada datar dari ucapannya semakin mengintimidasi Al.

“ba..baik kak, akan saya usahakan mencari orang tersebut dengan memaksimalkan waktu yang kakak berikan.” Jawab Al gugup karena tatapan ketiganya yang seakan ingin menelan Al hidup-hidup karena pertanyaan yang Al ajukan.

Sudah 12 orang kakak senior yang Al tanyakan dan tidak berhasil menemukan yang mana orang yang bernama Fahri Akbar tersebut. Ya jangan tanya darimana Al tahu yang ia tanyakan adalah kakak senior karena memang mereka semua mengenakan almamater kampus mereka. Padahal 10 menit lagi ia harus sudah berhasil meminta maaf pada si ketuplak acara tersebut tapi nyatanya hingga detik ini pun ia belum berhasil mengetahui yang mana si empunya nama. Sampai sebuah obrolan menghentikan langkahnya yang baru saja akan kembali mencari si ketuplak tersebut.

“woy, ri fahri dari mana aja lu? Gue cariin dari tadi gak ada, 10 menit lagi apel dimulai nih siap-siap buat sambutan.” Kata kakak senior laki-laki yang tengah berbicara dengan laki-laki di sebelahnya yang baru saja datang.

“Habluminallah, iye iye udah gue siapin kok sambutannya” kata si laki-laki yang baru datang tersebut yang ternyata adalah si ketuplak orientasi universitas.

Alika yang sedari tadi memperhatikan obrolan mereka bersyukur sekaligus kaget secara bersamaan, pasalnya ia telah menemukan si ketua pelaksana tersebut, akan tetapi ia begitu terkejut dikarenakan orang tersebut adalah laki-laki yang membuatnya tidak jadi pulang ke rumah dan mengikuti orientasi ini. Ya laki-laki yang pagi tadi membuat hatinya terasa sangat hangat mendengar bacaan yang dilantukan oleh laki-laki tersebut. Ya Allah harus bagaimana ini batin Alika berkata. Dengan membulatkan tekad dan mengumpulkan keberanian yang tersisa akhirnya Al menghampiri ketua pelaksana orientasi universitas tersebut.

“permisi kak! Saya Alika tadi saya diperintahkan oleh kakak-kakak kedisiplinan untuk meminta maaf kepada kakak atas keterlambatan yang saya lakukan, apakah kakak bisa memaafkan saya dan memberi tanda tangan kakak sebagai bukti kalau kakak sudah memaafkan saya, boleh kan kak?” Tanya Al sudah dengan wajah pucat pasi dan debaran aneh di jantungnya.

“kamu sakit?” pria dihadapannya ini tidak menjawab pertanyaan Alika dan malah mengajukan pertanyaan baru kepadanya. Alika menggeleng. “muka kamu pucat” sargahnya lagi.

“oh ini em itu kak saya belum sarapan jadi pucat gini, tapi saya gapapa kok kak, saya cuma butuh tanda tangan kakak setelah itu saya bisa bergabung dengan yang lain untuk sarapan” jawab Alika sedikit gugup.

“baiklah, saya terima permintaan maaf kamu dan memberikan kamu tanda tangan, tetapi setelah itu jangan lupa untuk sarapan karena saya tidak ingin ada peserta yang pingsan hanya karena tidak diberi waktu untuk sarapan” jawab pria tersebut yang tentunya bernama Fahri Akbar, ketua pelaksana orientasi universitas tersebut. Entah mengapa jawaban Fahri sukses membuat hati Alika sangat nyaman. Setelah mendapatkan tanda tangan Fahri, Alika pun mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan pria tersebut.


cerita ini baru dimulai.. perasaan dalam diam yang disemai seseorang melalui doa dan harapan.
tentang kerelaan, sedih dan patah. porak-poranda takdir yang memantapkan hati dan langkah untuk terus menghadapi setiap masalah kehidupan, serta memperkuat keimanan dengan mendekatkan diri pada Sang Empu-Nya Kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKU, KAMU DAN TAKDIR an novel by Dahlia Prihatini

Bagian 2 "Takdir seperti menegaskan, bahwa hadirnya memang selalu menjadi rahasia" Hari ini adalah hari pertama dimulainya perkuliahan semester baru setelah para mahasiswa baru menghadapi kegiatan orientasi yang melelahkan, mahasiswa lama maupun baru mulai menjalani aktifitas perkuliahan, begitupun dengan Alika.  Alika berangkat dengan menggunakan sepeda motor matic miliknya. Jalanan sangat ramai dan sepertinya Alika akan telat mengikuti mata kuliah pagi ini jika motornya saja tidak bisa bergerak maju akibat kemacetan ibu kota.  "Astagfirullah, hari pertama kuliah masa telat si. Hmm sebenernya salah gue juga si berangkat senin pagi gini gak ngitung estimasi macet." Alika bermonolog sambil merutuki dirinya sendiri. Sampai di parkiran, Alika dipusingkan dengan masalah parkiran yang penuh, "Ya ampun, ini kenapa ada aja ya masalah gue dari tadi. Udah kena macet, gak dapet parkiran, trus apa lagi.." lagi-lagi dirinya bermonolog. Dengan berat hati dirinya berkel...

Motivasi masa kini

Assalamualikum. Wr. Wb Hai semua pembaca blog gue! Semoga kalian semua selalu dilimpahkan rahmat dan karunia dari Allah swt.. Amiin Nah di tulisan kali ini gue bakal sedikit sharing ni sama kalian semua. Fyi, gue sekarang lagi menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Jakarta gais, ehehe ga penting si sebenernya, but will be important cause apa yang akan gue share disini berhubungan sama that's thing. Biar kayak cerita-cerita di tv, hehehe Semua berawal dari masa ketika gue kelas tiga sekolah menengah atas, ya sebenarnya sekolah gue itu sekolah Islam tetapi levelnya bisa dibilang setara dengan SMA negeri lainnya (sedikit improve promo MAN). Ini agak sedih si,  ketika rata-rata dari temen-temen gue udah nentuin PTN mana yang mau mereka pilih atau jurusan apa yg bakal mereka ambil, sementara gue masih gatau bakal nerusin kuliah dimana atau ngambil jurusan apa. Ya Allah.. Ya dulu gue emang gitu amat gaes ehehe maklumin aja dulu ya..  Lalu tibalah saat-saat y...