Bagian 2
"Takdir seperti menegaskan, bahwa hadirnya memang selalu menjadi rahasia"
Hari ini adalah hari pertama dimulainya perkuliahan semester baru setelah para mahasiswa baru menghadapi kegiatan orientasi yang melelahkan, mahasiswa lama maupun baru mulai menjalani aktifitas perkuliahan, begitupun dengan Alika.
Alika berangkat dengan menggunakan sepeda motor matic miliknya. Jalanan sangat ramai dan sepertinya Alika akan telat mengikuti mata kuliah pagi ini jika motornya saja tidak bisa bergerak maju akibat kemacetan ibu kota.
"Astagfirullah, hari pertama kuliah masa telat si. Hmm sebenernya salah gue juga si berangkat senin pagi gini gak ngitung estimasi macet." Alika bermonolog sambil merutuki dirinya sendiri.
Sampai di parkiran, Alika dipusingkan dengan masalah parkiran yang penuh, "Ya ampun, ini kenapa ada aja ya masalah gue dari tadi. Udah kena macet, gak dapet parkiran, trus apa lagi.." lagi-lagi dirinya bermonolog.
Dengan berat hati dirinya berkeliling untuk mencari parkiran yang kosong, setelah menemukan apa yang ia cari, dirinya langsung mengemudikan motornya ke tempat tersebut. Akan tetapi, sebelum motornya menempati tempat kosong tersebut, terdapat motor dari arah berlawanan yang sudah terlebih dahulu menempati area parkir tersebut. Alika kesal dan turun dari motornya, menghampiri orang tersebut dan berniat memarahinya karena sidaj seenaknya merebut area parkir.
"Mas, maaf ya saya udah duluan liat nih area parkir kosong kok mas nya tiba-tiba nye.....ro.....bot....." kalimatnya langsung terhenti ketika sang perebut area parkirnya membuka helm yang dikenakan.
"Loh? Kakak ketuplak? Kok bisa kebetulan gini ya? Kakak lagi apa disini?" Yang ditanya hanya bisa menampilkan wajah bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Alika. Ya laki-laki si perebut area parkir adalah Fahri.
Alika merutuki pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutnya dan berusaha menampilkan senyum walaupun sebenarnya ia malu bukan main karena ucapannya barusan.
"Maaf ada apa ya?" Tadi kamu ngomong apa pas awal? Sorry saya kurang denger soalnya pake helm tadi" Tanya Fahri kebingungan.
"Eh gapapa kok kak, maaf ternyata salah orang, tadi saya pikir kakak temen saya eh ternyata bukan hehehe" sahut Alika sambil tertawa garing bahkan terdengar aneh karena tidak ada hal lucu dalam ucapannya.
"Yaudah kak saya permisi dulu kalau gitu, maaf ya kak sekali lagi" ujarnya lagi dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Fahri yang masih setia berdiri disana memperhatikan kelakuan aneh gadis tersebut. Tanpa sadar ia pun menyunggingkan senyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan aneh gadis tersebut. "Ada-ada saja" gumam Fahri.
Akhirnya setelah insiden telat tadi pagi, Alika bersyukur karena dosennya pagi tadi berhalangan hadir karena keperluan mendadak. Saat ini Alika sedang berada di perpustakaan untuk mencari referensi buku yang diberikan oleh dosen mata kuliah selanjutnya tadi. Saat sedang sibuk mencari buku, pandangan Alika jatuh pada Al-Qur'an yang berada diantara buku-buku referensi tersebut. Dan seketika pemikirannya mengingat kejadian pagi tadi di parkiran dimana dirinya bertemu kembali dengan lelaki Ar-Rahman, ya dia si ketua pelaksana orientasi Universitasnya, kemudian senyum terbit di wajah cantiknya.
Hampir 3 bulan perkuliahan telah berlalu, dan berdasarkan informasi yang didapatkan Alika tentang lelaki Ar-Rahman bahwa dia merupakan mahasiswa yang berbeda fakultas dengannya dan juga salah satu anggota pengurus masjid kampusnya. Setelah ini Alika bertekad akan mencari tahu lebih banyak tentang Kak Fahri si lelaki Ar-Rahman, tetapi ia harus menunda keinginannya karena harus fokus terhadap UTS yang akan dijalaninya.
"Al, tau gak si? Kemarin gue denger kampus kita bakal ngewakilin debat tingkat nasional bulan depan. Keren banget gak si? Jarang banget kan ada berita kayak gini selama ini? Selama ini gue belom pernah denger berita kayak gini tau gak sih" ucap Salwa, teman Alika yang suka sekali mendramatisir keadaan.
"Wa, please ya kita kan baru tiga bulan kuliah disini. Ya jadi wajar ajalah kita baru denger berita kayak gini sekarang, dan bukan berarti kegiatan ini jarang atau baru kali ini ada. Ya kita nya aja yang gak tahu" jawab Alika sedikit jengah dengan sikap dramatisir temannya yang satu ini.
"Yaudeh deh terserah lu. Intinya gue udah tahu siapa yang bakal ngewakilin kampus kita, orangnya cowok Al!" Ungkap Salwa dengan sangat antusias.
"Ya trus kenapa kalau cowok?" Balas Alika kurang antusias dengan percakapannya kali ini bersama temannya itu.
"Ya lu gak penasaran apa? Ganteng loh orangnya.." goda Salwa.
"Hm, gak." Jawab Alika dengan malas sambil kembali membaca buku di tangannya.
"Ih lu mah gak seru banget deh, yaudah ah gue mau ngomongin Kak Fahri sama yang lain aja deh" jawab Salwa kesal dan berniat pergi dari tempat mereka duduk.
Alika menahan tangan Salwa, "tadi lu bilang kak siapa?" Tanya Alika penasaran, apakah dia hanya salah dengar tadi atau benar pendengarannya barusan.
"Kak Fahri!" Jawab Salwa kesal karena merasa temannya ini aneh karena mendadak bertanya objek pembicaraan mereka padahal tadi sudah menolak untuk bergosip ria bersamanya.
"Fahri Akbar? Anggota pengurus masjid kampus?" Tanya Alika dengan sangat antusias.
"Iya. Dia orangnya" jawab Salwa keheranan karena temannya ini mendadak antusias.
"Sini-sini duduk, mau kemana si lu Wa. Tadi katanya mau cerita kok malah buru-buru gitu. Mau cerita soal Kak Fahri kan? Yaudah ayo cerita apa gue dengerin kok.." Alika berbicara dengan wajah yang berbinar dan penuh semangat.
"Lu kenapa deh, Al? Tadi bilang gak penasaran, sekarang kenapa jadi ngebet banget denger cerita dari gue deh." Sahut Salwa betul-betul heran.
"Ya karena gue pengen tahu" semua tentang Kak Fahri.. lanjutnya dalam hati.
Terkadang hal yang tak menarik sekali pun akan menjadi sesuatu yang amat ditunggu jika beritanya tentang dia yang menetap di hati.
Bersambung......
Komentar
Posting Komentar