Bagian 3
-"Takdir memang selucu itu, semua terjadi tanpa rencana, seolah semesta menuntunku mendekat ke arahmu"-
"Ya jadi gitu ceritanya, Al." Ucap Salwa setelah selesai berbincang dengan Alika. Sebenarnya tidak bisa dibilang berbincang karena hanya Salwa yang sibuk bercerita sedangkan Alika hanya fokus menyerap informasi yang dia terima dari temannya tersebut.
Berdasarkan informasi yang Alika terima, Kak Fahri bersama dua orang temannya akan berangkat 2 minggu lagi untuk kompetisi debat tersebut, tepatnya berada di Yogyakarta. 'Tempat istimewa untuk seseorang yang istimewa pula' gumam Alika dalam hatinya.
/////
Seminggu sudah Alika disibukan dengan UTS berbagai mata kuliah yang diambilnya pada semester ini, Alika pikir sekarang sudah saatnya ia mulai mencari tahu lebih jauh tentang si lelaki Ar-Rahman. Pencarian informasi pertama Alika memulai dari yang paling mudah yakni media sosial, yup zaman sekarang hal paling mudah untuk mendapatkan informasi tentang seseorang ialah melalui media sosialnya.
Bermodal nama lengkap si lelaki Ar-Rahman, Alika mulai berselancar di internet untuk menemukan apa yang bisa ia dapatkan tentang Fahri Akbar. Tak sulit mencari media sosial seorang Fahri Akbar karena ternyata ia orang yang cukup aktif di media sosial, Alika bahkan takjub bahwa pengikut Kak Fahri di sosial media sudah mencapai puluhan ribu, rupanya Kak Fahri bukan hanya terkenal di dunia nyata akan tetapi juga di dunia maya,
"huft apakah Kak Fahri memiliki banyak secret admirer? Ya tentunya banyak!" Sungut Alika entah kepada siapa. Lelaki sebersinar Fahri Akbar pasti akan bersinar dimanapun ia berada.
"Tidak sepertiku yang hanya wanita biasa, bahkan sangat biasa untuk terlihat oleh Kak Fahri." batinnya mengejek.
Dari pencarian Alika lewat sosial media, selain aktif dalam BEM dan pengurus masjid kampus, ternyata Kak Fahri juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan mengajar anak-anak yang kurang mampu, bahkan caption disetiap fotonya pun tidak sembarangan, melainkan berisi kata-kata indah nan menyejukkan hati. Memang idaman sekali seorang Fahri Akbar.
Malam ini, Alika sekeluarga makan malam di sebuah restoran yang ada dibilangan Jakarta. Ayahnya bilang ini sekaligus perayaan untuk projek ayahnya yang telah memenangkan tender besar beberapa hari lalu. Untuk informasi bahwa Ayah Alika merupakan seorang arsitek di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Alika dan adiknya tentu senang saja jika diajak pergi makan seperti ini.
"Yah, pertemuan sama client ayah minggu depan itu jadi?" Tanya ibu ketika appetizer mereka sampai.
"Jadi bu, sudah dijadwalkan sama kantor, sepertinya hari Jumat ayah berangkat." Balas ayah kemudian meyuap hidangan pembuka mereka yang sudah tersaji.
Jika ibunya sudah menanyakan jadwal meeting ayahnya, pasti sang ayah akan keluar kota, pikir Alika.
"Kalo hari Jumat ayah baru berangkat, pulangnya kapan yah? Weekend pulang kan yah? " tanya Salsa, adik Alika dengan penasaran.
"Ya gabisa langsung pulang dong dek, emangnya kamu pikir Jakarta-Jogja cukup sejam dua jam. Paling ayah minggu baru sampe rumah lagi." Jawab ayah menjelaskan.
"Ih ayah gak asik ah, katanya mau temenin aku ambil gambar buat tugas, huft" rajuk Salsa sambil memajukan bibirnya tanda kesal karena sang ayah membatalkan janji padanya.
Alika tersenyum melihat kelakuan sang adik, "yaudah nanti sama aku aja sa ambil gambarnya" ucap Alika menawarkan bantuan pada sang adik.
"Yaudah tuh sama kakakmu aja deh, Sa" ucap ibu menyetujui ide sang anak.
"Gamau sama Kak Al, yang ada dia asik sendiri ambil gambar, gak ajarin aku teknik ambil gambar yang estetik. Tau-tau jadi aja fotonya, aku tuh mau tau juga gimana tekniknya. Kalo sama ayah kan, aku nanti diajarin semua tekniknya, ya kan yah?" Ucap Salsa membujuk ayahnya.
"Salsa mah aneh, ada yang mudah ngapain cari yang susah, hilih" seloroh Alika pada adiknya tersebut.
"Suka-suka aku dong, wleee!" Ledek Salsa pada kakaknya.
"Yaudah gini aja, gimana kalo Salsa, Alika sama ibu ikut ayah ke Jogja jadi biar nanti Salsa ambil gambarnya disana, kan banyak tuh pemandangan yang bagus di Jogja dan pastinya gak kalah bagus sama di Jakarta kan?" Ide sang ayah menawarkan.
"Emang gak ganggu kerjaan ayah disana nantinya yah? Kan ayah kesana buat kerja, bukan untuk jalan-jalan, masa bawa kita sekeluarga?" Balas ibu setelah menerima makanan utama pesanan mereka pada malam hari ini.
"Ya kalo mau ambil gambarnya di hari minggu, InsyaAllah gak bakal ganggu kerjaan ayah kok bu." Jawab ayah meyakinkan ibu.
"Yaudah Alhamdulillah kalo engga ganggu deh yah, gimana kak, dek? Kalian mau emang ikut ke Jogja?" Tanya ibu pada Alika dan Salsa.
"Ya aku sih mau banget bu, justru itu yang aku harapkan, nanti bisa ambil objek gambar di Candi Borobudur, hehehe" jawab Salsa menunjukkan wajah konyolnya pada sang ibu.
"Kamu tuh yah, emang paling bisa deh yah, bilang aja dari awal mau ikut ayah ke Jogja, pake acara ngambek dulu, hm" ucap sang ibu pada sang anak kedua. "Kamu gimana kak? Ikut kan?" Tanya ibu pada Alika.
"Iya bu, Al ikut. Itung-itung refreshing setelah pekan UTS minggu lalu," jawab Alika sembari tersenyum.
"Oke kalo gitu, deal ya kita berangkat Jumat sore" final ayah, kemudian mereka melanjutkan acara makan malam mereka dengan berbagai obrolan ringan, candaan, serta celetukan dari Salsa si cerewet.
/////
Hari jumat adalah hari yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa karena esoknya adalah weekend, tak ayal yang ditunggu oleh Alika dan teman-teman sekampusnya juga.
"Oke, kuliah hari ini kita cukupkan sampai disini, papernya jangan lupa setelah ini langsung di upload di google classroom ya, kalo gitu selamat berakhir pekan dan sampai ketemu minggu depan." Ucap sang dosen mengakhiri kuliah terakhir untuk Alika pada hari ini, Alika harus buru-buru pulang karena sore nanti dirinya harus berangkat ke Jogja bersama keluarganya.
"Buru-buru banget sih Al, tenang Al jodoh lu gak bakal diambil orang kok hahahaha" ledek Salwa kepada Alika yang terlihat buru-buru sekali untuk pergi dari kelas jam terakhir mereka.
"Gue emang lagi buru-buru Salwaaaa, gue ditunggu soalnya mau ke Jogja nanti sore sama keluarga gue" ucap Alika.
Salwa yang masih tertawa, tiba-tiba menghentikan tawanya, kemudian bertanya pada Alika, "wait, bentar, gimana-gimana, tadi lu bilang apa? Kemana? Gue gak salah denger kan? Lu bilang mau ke Jogja?" Ucap salwa terkejut serta terbelalak.
"Iya. Ke Jogja. Kenapa sih emangnya? Kayak gue mau ke Kutub Utara aja deh ekspresi lu sampe segitunya." Seloroh Alika seadanya.
"Alika Humaira!! Ihh lu kok curang banget sih! Lu sengaja ya ngikutin Kak Fahri ke Jogja?! Sumpah ya Al, kenapa lu gak ngajak-ngajak gue sih?" Sembur Salwa kepada Alika dengan ekspresi yang amat didramatisir.
"Hah? Maksudnya gimana? Siapa yang ngikutin siapa? Ngaco deh lu, kurang kerjaan banget gue ngikutin Kak Fahri sampe Jogja, lagian lu tau dari mana dia mau ke Jogja? Emang dia bilang..... deg. Alika baru teringat satu hal, yap, percakapannya dengan Salwa dua minggu lalu. Kemudian menatap Salwa dengan ekspresi yang tak kalah terkejutnya.
"Udah inget sekarang?" Ledek Salwa pada Alika, masih mempertahankan wajah yang benar-benar didramatisir.
Hah. Kenapa Alika bisa melupakan hal sepenting itu?! Ini pasti karena efek mengerjakan paper seminggu ini, sehingga dia melupakan percakapan pentingnya dengan Salwa waktu itu.
Lalu bagaimana sekarang? Kenapa mereka harus pergi ke tempat yang sama di waktu yang sama pula? Hahh. Bagaimana jika takdir mereka berpapasan?
Bersambung........
Komentar
Posting Komentar