Langsung ke konten utama

AKU, KAMU DAN TAKDIR an novel by Dahlia Prihatini

Bagian 4
"Saat terus bersinggungan denganmu, harapanku bahwa kamu adalah bagian dari takdirku"


Dalam perjalanan ke Yogyakarta Alika lebih banyak diam di mobil, kendati sang adik terus mengajaknya berbincang, ia hanya menjawab seadanya. 

"Kak Al, nanti kakak ikut aku, ibu, sama ayah ke borobudur temple, or stay in hotel nih?" Ucap Salsa pada sang kakak yang masih setia melihat sepanjang jalan tol.

"Ya masa kakak kamu udah jauh-jauh ke Jogja, cuma diem di hotel aja sal, ya pasti ikut kita dong jalan-jalan keliling Jogja termasuk ke borobudur." Ibu yang mewakili isi hati Alika.

"I don't wanna say anything for you, because my mother explain to you, arachi?" balas Alika akhirnya, karena adiknya yang tak paham juga dengan dirinya yang tak ingin melanjutkan percakapan. Lagipula pertanyaan adiknya sangatlah unfaedah, karena ia sudah pasti ikut kemana pun mereka pergi, pikir Alika.

"arasseoyo, eonnie. Hajiman, non eomeonineun naega eomeoniiyeyo." Balas Salsa dengan bahasa yang tak kalah random. Seperti yang diketahui bahwa ibu mereka memang memiliki darah Korea sehingga sedikit banyak sang ibu mengajari mereka bahasa hangul tersebut.

"Siekro, chebal. Naneun jago sipda!" Sungut Alika pada adiknya sebelum memejamkan mata karena moodnya tidak bagus hari ini. Entah kenapa, harusnya ia senang karena akan jalan-jalan ke tempat favoritenya dari kecil. Sungguh Alika hanya takut terlalu menaruh harapan bahwa ia akan bertemu dengan si lelaki Ar Rahman, nyatanya Jogjakarta merupakan tempat yang luas hingga kemungkinan mereka bertemu pastilah kecil, Alika merutuki pemikirian tersebut. Alika tak pernah menyangka bahwa ia akan pergi ke Jogja di waktu yang sama dengan si lelaki Ar-Rahman. 


Suara itu lagi, kali ini ayat yang dilantukan lebih terdengar nyaring dari beberapa waktu yang ia dengar. Kenapa selalu melantunkan surat yang sama? Pikir Alika. Alika mendekati sang pemilik suara yang seperti biasa posturnya hanya terlihat dari belakang saja. Saat ingin menyentuh bahu sang pemilik suara untuk mengetahui apakah lelaki ini benar seseorang yang dipikirkan, tiba-tiba...

"Kak Al, udah sampe!" Ucap Salsa sambil menggoyangkan bahu kakaknya tersebut.

"Dek, banguninnya jangan teriak-teriak gitu, kasian kakak kamu jadi kaget tuh" tegur ibu pada Salsa.

Salsa hanya menampilkan senyum lebarnya seraya berkata, "hehe iya deh maaf bu, aku iseng aja soalnya, maaf  juga ya kak, peace!" sambil tersenyum lebar serta mengangkat jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan menggambarkan bahwa dia meminta maaf.

"Kebiasaan banget ih kamu mah" sungut Alika. Ya Alika sebenarnya kesal karena berkat adiknya yang sangat jahil itu, ia gagal melihat siapa seseorang yang selalu hadir dalam mimpinya itu. Alika benar-benar penasaran.


/////
Ini hari terakhir Fahri bersama dua temannya yakni Sean dan Rendra berada di Jogjakarta. Setelah melaksanakan tugas mereka kemarin, kini mereka diberi waktu untuk mengelilingi kota Jogjakarta sebelum kembali ke ibu kota keesokan hari.

Sean memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam hotel setelah memesan beberapa makanan khas Jogjakarta, karena dia sudah terlalu lelah untuk berkeliling Jogja, lagipula ia sudah sering sekali mengunjungi kota ini sehingga untuk saat ini ia memilih untuk istirahat saja dikasur penginapannya yang empuk. Sedangkan Rendra memilih untuk berkeliling Mallioboro saja dikarenakan adiknya yang sudah memberondongnya dengan pesan oleh-oleh. Lalu Fahri sendiri belum tau apa yang akan dia lakukan hari ini. 

Beberapa waktu kemudian, dua panitia acara debat mendatangi kamar mereka dan menawarkan mereka untuk tour di Candi Borobudur siang ini, tentunya Sean dan Rendra menolak ajakan tersebut karena sudah punya agenda mereka sendiri. Akan tetapi Fahri tertarik untuk ajakan tersebut, karena memang dia masih belum tahu apa yang akan dia lakukan siang ini.


////
Tibalah Fahri dan rombongan staff serta peserta kompetisi debat lain yang memilih ikut ke Candi Borobudur. Mereka berpisah di area masuk candi dan diberi waktu untuk berkumpul kembali pada jam sore hari. Fahri memilih berkeliling candi seorang diri dan memotret beberapa keindahan yang terbentang di depannya. Beberapa hasil jepretannya berhasil membuatnya berdecak kagum karena memang candi ini memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. 

Ketika sampai di salah satu objek candi bidikannya, ia terhenti sebentar. Objek yang semula terfokus pada sebuah candi besar kemudian terganti kepada sesosok wanita berkerudung cokelat susu yang sedang melakukan hal yang sama dengannya, yakni memotret keindahan disana, bedanya hanya objek yang mereka potret. Jika Fahri memilih objek candi sebagai sasaran bidikannya, si wanita memilih objek di sekitaran candi, yang memang tak kalah menakjubkan untuk diabadikan.

Sesaat Fahri tersenyum melihat si wanita tersebut yang kesusahan mengambil gambar objek yang ia tuju kemudian mulai menampilkan wajah kesal karena objek yang diincarnya dihalangi oleh beberapa wisatawan lain yang sedang asik berselfie ria. Fahri melihat si wanita bergumam sesuatu yang membuat mimik wajahnya terlihat sangat lucu kemudian menyerah dan memilih objek lain yang lebih sepi oleh wisatawan.

Alika dibuat kesal oleh beberapa pasangan remaja sekolah dihadapannya saat ini, pasalnya mereka sudah melakukan sesi foto banyak sekali didepan objek foto yang sedari tadi ia incar, tetapi mereka seakan enggan untuk bergantian, 'ya masa gue harus foto mereka juga sih,' sungut Alika dalam hatinya. 
"Sumpah ya ni mereka cuma selfie beberapa orang tapi kenapa lama banget deh, sampe kapan gue harus berdiri disini nungguin mereka, hm apa gue tegor aja ya? Gak..gak..gak.. gamau nyari ribut sama bocil, mending gue ngalah deh, cabut, bye!" Gumam Alika pada dirinya sendiri kemudian berlalu dari tempat tersebut.

/////
Hari ini Salwa dan Erina kedua teman Alika membawa kehebohan dikelas pagi, pasalnya informasi yang mereka bawa ialah terkait unit kegiatan mahasiswa expo di aula kampus, hampir semua kegiatan mahasiswa akan mengadakan stand disana untuk mahasiswa yang ingin bergabung didalamnya.

"Alika pokoknya kita harus daftar kegiatan ngajar kampus biar bareng sama Kak Fahri, terus kalo bisa nanti semester depan kita masuk BEM juga deh biar intensitas ketemu Kak Fahri makin banyak Al, asli muka doi tuh asupan vitamin C banget tau gak" cercah Salwa pada Alika dengan bersemangat.

"Iya gue emang udah niat daftar BEM si dari awal, cuma kalo kampus mengajar kayaknya gak dulu deh Wa, gue gak ada bakat ngajarin anak orang, skip dulu deh." Balas Alika pada Salwa dengan tenang.

"Lu yakin gamau daftar kampus mengajar Al? Gak nyesel nanti kalo Kak Fahri jadi deketnya sama gue? Hahahaha" ledek Salwa pada temannya tersebut. Sedangkan yang diledek hanya bisa menampilkan ekspresi datarnya. "I dont care" balas Alika sekenanya. Meledaklah tawa Salwa saat itu juga, "yailah Al, kalo cemburu biasa aja dong, gausah keliatan banget gitu, tenang aja Kak Fahri cuma buat Alika seorang kok" ledek Salwa, sedangkan yang diledek hanya bisa menggumamkan kata "apaan sih" dengan muka yang merah padam.


"Al, lu yakin gamau ke stand kampus mengajar?" Salwa memastikan pada Alika.

"Gak deh, lu aja sana sama Erina" ucap Alika seraya mendorong kedua ke stand yang dimaksudkan.

"Okedeh, jangan nyesel ya kalo nanti gue ketemu Kak Fahri hahahaha" ledek Salwa seperti biasa. "Terserah deh," jawab Alika sekenanya.

Mata Alika menangkap salah satu stand yang mencuri perhatiannya, dalam stand tersebut banyak sekali foto-foto pemandangan yang sangat indah, "ada yang bisa dibantu kak? Kakak berminat ikut serta dalam klub fotografi kampus kita?" Tanya salah satu wanita yang duduk di stand tersebut.

"Eh iya kak, ini UKM fotografi ya kak? Duh aku suka ngefoto-foto si kak, tapi hasilnya biasa aja hehe gak pro gitu, kira-kira boleh daftar gak ya kak?" Ucap Alika malu-malu kepada si wanita penjaga stand.

"Gapapa kok, disini emang tempat kita belajar, jadi jangan minder gitu, lagian aku belom liat hasil jepretan kamu, siapa tau yang menurut kamu biasa aja, menurut orang lain itu keren kan hehehe gimana nih masih minat daftar kan?" si wanita stand berusaha mencairkan suasana.

"Hm oke deh kalau gitu kak, aku mau daftar, kira-kira persyaratannya apa aja ya kak?" Tanya Alika antusias, karena sangat jarang menemui perkumpulan yang satu hobi dengannya seperti ini.

"Mantap, okedeh kamu cukup isi daftar hadir disini trus isi formulir ini yaa" tunjuknya pada sebuah daftar hadir dan memberikan beberapa lembar kertas berisi formulir pendaftaran klub fotografi. "Ini boleh dibawa pulang atau diisi disini kak?" Tanya Alika. "Isi disini aja ya hmm ohiya aku lupa tanya nama kakak siapa?" Ucap sang wanita tadi terdengar ramah.

"Aku Alika Humaira kak dari Fakultas Teknik, ohiya kakak gaperlu panggil aku kakak deh kayaknya, soalnya aku baru semester satu sekarang hehe nama kakak siapa kalo boleh tau?" jawab Alika seraya tersenyum.

"Okedeh Alika hehehe nama aku Marsha, kita sefakultas nih, aku semester 5 sekarang" balas sang wanita yang ternyata bernama Marsha.

"Salam kenal ya Kak Marsha, kedepannya aku mohon bantuan dan arahan kakak ya di klub fotografi ini" ucap Alika seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kak Marsha.

"Salam kenal juga ya Alika, aku harap kita bisa berteman baik nantinya" sambut Marsha dengan ramah. "Ohiya kamu bisa isi formulirnya dimeja itu ya" tunjuk Marsha pada sebuah meja yang juga ada beberapa orang yang sedang mengisi formulir.

Saat sedang mengisi formulir pendaftaran, Alika melihat beberapa orang berdatangan sambil mengobrol santai, "tuhkan gue bilang juga apa, pasti banyak yang daftar ke klub ini!" Ucap salah satu diantara mereka dengan bangga. "Alhamdulillah, gue gak nyangka bakal serame ini" ucap salah satu yang lainnya. Deg.. Alika mengenal suara ini, ia benar-benar hapal. Walaupun baru mendengarnya beberapa kali di dunia nyata, akan tetapi ia sering mendengarnya dalam mimpi-mimpinya bahkan sebelum pertemuannya dengan si empunya suara.

Alika menengok dan Bumm.. ternyata benar Fahri Akbar lah orangnya, Alika tidak salah dengan pendengarannya. Demi apa dia bagian dari Klub Fotografi ini? Ya Allah Alika senang sekali mengetahuinya.


Garis takdirku dan garis takdirmu seperti saling menarik untuk menjadi sebuah pertemuan, sungguh apakah kau bagian dari harapan yang ku semai?


Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKU, KAMU DAN TAKDIR an novel by Dahlia Prihatini

Assalamualaikum teman-teman readers blog gue! Apa kabar? semoga kalian  selalu mendapat perlindungan dari Allah swt. Amiin!! hari ini gue mau sharing tulisan gue terkait sastra fiksi, ya emang masih amatir si dalam penulisan but gue berharap kalian suka and enjoy for reading ya guys! ANONIM Cerita ini mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang, tapi tidak bagi Sang Maha Pemilik Kehidupan. Betapa takdir begitu rumit mempersatukan sepasang hati anak manusia. Kejutan-kejutan yang selalu datang tanpa diminta. Pertemuan-pertemuan yang menguak banyak rahasia. Ini kisah tentang sebuah pencarian, prinsip hidup, keimanan, dan cinta. Prolog Manusia memang tidak mengetahui bagaimana Tuhan menggariskan hidupnya. Takdir seperti apa yang dipilihkan Tuhan untuk seorang manusia memanglah akan selalu menjadi misteri yang terungkap seberjalannya waktu. Begitupun dengan takdir yang dijalani gadis cantik berumur 24 tahun ini, ia berdiri di dalam ruangan kerjanya yang terletak...

AKU, KAMU DAN TAKDIR an novel by Dahlia Prihatini

Bagian 2 "Takdir seperti menegaskan, bahwa hadirnya memang selalu menjadi rahasia" Hari ini adalah hari pertama dimulainya perkuliahan semester baru setelah para mahasiswa baru menghadapi kegiatan orientasi yang melelahkan, mahasiswa lama maupun baru mulai menjalani aktifitas perkuliahan, begitupun dengan Alika.  Alika berangkat dengan menggunakan sepeda motor matic miliknya. Jalanan sangat ramai dan sepertinya Alika akan telat mengikuti mata kuliah pagi ini jika motornya saja tidak bisa bergerak maju akibat kemacetan ibu kota.  "Astagfirullah, hari pertama kuliah masa telat si. Hmm sebenernya salah gue juga si berangkat senin pagi gini gak ngitung estimasi macet." Alika bermonolog sambil merutuki dirinya sendiri. Sampai di parkiran, Alika dipusingkan dengan masalah parkiran yang penuh, "Ya ampun, ini kenapa ada aja ya masalah gue dari tadi. Udah kena macet, gak dapet parkiran, trus apa lagi.." lagi-lagi dirinya bermonolog. Dengan berat hati dirinya berkel...

Motivasi masa kini

Assalamualikum. Wr. Wb Hai semua pembaca blog gue! Semoga kalian semua selalu dilimpahkan rahmat dan karunia dari Allah swt.. Amiin Nah di tulisan kali ini gue bakal sedikit sharing ni sama kalian semua. Fyi, gue sekarang lagi menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Jakarta gais, ehehe ga penting si sebenernya, but will be important cause apa yang akan gue share disini berhubungan sama that's thing. Biar kayak cerita-cerita di tv, hehehe Semua berawal dari masa ketika gue kelas tiga sekolah menengah atas, ya sebenarnya sekolah gue itu sekolah Islam tetapi levelnya bisa dibilang setara dengan SMA negeri lainnya (sedikit improve promo MAN). Ini agak sedih si,  ketika rata-rata dari temen-temen gue udah nentuin PTN mana yang mau mereka pilih atau jurusan apa yg bakal mereka ambil, sementara gue masih gatau bakal nerusin kuliah dimana atau ngambil jurusan apa. Ya Allah.. Ya dulu gue emang gitu amat gaes ehehe maklumin aja dulu ya..  Lalu tibalah saat-saat y...